Dasar Pemikiran
Bahwa prestasi sepakbola hanya bisa dicapai apabila kita memiliki pondasi pembinaan yang mapan, dikelola dengan prinsip manajemen yang baik. Itu saja tidak cukup, ia butuh waktu, biaya, tenaga, fikiran, dan sentuhan cinta, sehingga segala pengorbanan yang pasti akan dialami, tidak membuat kita surut langkah bahkan terhenti di tengah jalan.
"Sepakbola Purbalingga" seperti halnya sepakbola di daerah lain, diyakini punya potensi pemain muda usia yang berlimpah dan punya kesempatan melahirkan pemain yang berkualitas pada saatnya nanti. Bukan tidak mungkin, apabila mimpi Indonesia (PSSI -Red) menjadi kenyataan yakni menjadi tuan rumah Piala Dunia (Word Cup 2022) ~salah satu-nya atau mungkin lebih~ pemain Timnas kita berasal dari Purbalingga. (Ingat, calon pemain Timnas kita pada tahun 2022 nanti sekarang masih berusia 10 s/d 12 tahun).
Persoalannya, kita jarang atau bahkan sama sekali tidak mau menyentuh potensi unggul yang sering kita lihat di sudut-sudut kota, di gang-gang sempit, di pematang sawah, atau lahan kosong tempat mereka memainkan 'benda bulat lusuh' dengan kaki telanjang, atau di tanah lapang desa yang sudah tersedia tapi tak pernah difungsikan. Akan kah kita biarkan mereka tumbuh dan dibesarkan oleh alam ? Sementara ketika mereka beranjak dewasa 'kita paksa' untuk bersimbah peluh di ajang kompetisi yang makin keras persaingannya ? Kemudian mereka tersisih dari persaingan dengan rasa malu, frustasi, dan putus-asa. Akhirnya mereka tak lagi mau menekuni olahraga yang menjanjikan profesi terhormat ini, kemudian lari entah kemana... (masih untung kalau tidak terperosok ke dunia miras atau narkoba-Red)
Dulu kita pernah mendengar pameo "The Champ is born". Juara itu dilahirkan karena bakat sejak lahir. Ternyata, seiring majunya iptek di hampir semua lini kehidupan, pameo itu telah berubah menjadi "The Champ is made". Juara itu diciptakan atau dibentuk ! Maka, model pembinaan pemain secara berjenjang sejak usia dini, menjadi pilihan ideal. Pilihan seperti ini, sebenarnya sudah diterapkan sejak lama di banyak negara terutama di Eropa dan Amerika Latin. Terlambat kah kita ?
Tidak ada kata terlambat. Sudah menjadi hukum alam, bintang yang redup akan diganti bintang terang lainnya, pemain akan tumbuh-tumbang - dan tumbuh lagi - digantikan oleh generasi berikut demikian seterusnya....siapa tahu kini giliran kita !?
Maka, hadirnya Pusbit Tunas Perwira dan Puslat Putra Perwira ~ atau yang lain kalau ada ~ di tengah-tengah kita, patut mendapat apresiasi sehingga makin memperkokoh bangunan pondasi sepakbola Purbalingga khususnya, Indonesia pada umumnya.
MENGGALI POTENSI..., MEMBANGUN PONDASI..., MEMETIK PRESTASI ! !